MENU UTAMA:

21 May 2007

MEIMENEKA ANTRI MINYAK GORENG

(oom yuyi:2007)

meimeneka perempuan paruh baya.
bersenandung lembut......
mengumpat nasib diri sendiri,
bercerita tentang panas terik hidup di belantara kota

meimeneka perempuan sendiri saja
tinggal sepetak gubuk, halaman: tepi kali juga
suaminya....mati
anak-anaknya tiada berpusara
meimeneka terlelap...
berbantal koran bergambar mentri, entah edisi keberapa?
meimeneka tidak cakap membaca, yang ia tahu harga minyak goreng semakin tinggi..
yang ia pahami seminggu lagi gubuknya harus di kosongkan
yang orang tahu sehari-hari berangkat pagi subuh menggendong keranjang
pulang petang dengan beban berat barang rongsokan

meimeneka menggelung rambutnya yang separuh beruban
bersiap antri beras dan minyak goreng
berbekal koran bekas dan sekeranjang botol plastik
meimeneka tersenyum, berharap segera masak nasi dan goreng tempe kesukaan
sarapan pagi terlewat sudah setengah hari

aah, cukupkah rupiahku tukar sekilo minyak dan beras?
meimeneka tiba diantrian
keriputnya makin terlipat... bimbang
belum juga tiba giliran, barisan didepannya berteriak kecopetan..
sebuah telunjuk tepat di antara kedua matanya
meimeneka menggeleng............

telunjuk, telunjuk, telunjuk, telunjuk dan telunjuk yang lain ikut menunjuk-nunjuk.....
meimeneka di seret kekiri...... meimeneka di tarik kekanan
perempuan paruh baya yang sendirian saja itu di gelandang, di tendang, di caci....
ahh,.......meimeneka
dan ribut kacau antrian berganti pergumulan yang buas

"aku bukan pencopet, aku bukan maling, aku hanya bagian dari kemiskinan" keakuan meimeneka terus berteriak..
orang-orang semakin tidak mendengar, orang-orang semakin liar
"bakar, bakar pencopet!! bunuh maling, bunuh maling!!!"

terkesiap darah meimeneka, ketika bajunya yang kumal mulai terasa dingin meresap, merebak aroma bensin:

meimeneka terbakar kemarahan
meimeneka menunda harapan
makan nasi hangat dan tempe goreng kesukaan
meimeneka perempuan setengah baya korban pelampiasan

18 May 2007

kesaksian wiji thukul

Wiji Thukul, Maret 1986

apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum membayar uang spp

apa yang berharga dari puisiku
kalau becak bapakku tiba-tiba
rusak jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku
kalau bapak bertengkar dengan ibu
ibu menyalahkan bapak
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah

apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijeret utang
kalau tetangga dijiret uang?

apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah pinggir-pinggir selokan
sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah

apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal?

apa yang berharga dari puisiku
yang kutulis makan waktu berbulan-bulan
apa yang bisa kuberikan
dalam kemiskinan
yang menjiret kami?

apa yang telah kuberikan
kalau penonton baca puisiku memberi keplokan
apa yang telah kuberikan
apa yang telah kuberikan

Bunga & Tembok

oleh: Widji Thukul

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

dalam keyakinan kami
di mana pun –tirani harus tumbang!

Solo, 87-88

14 May 2007

SENJA DI PELABUHAN KECIL

(buat: Sri Ajati)

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam.
Ada juga kelepak elang
menyinggung muram,
desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan.

Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi.
Aku sendiri.
Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(1946)

MIRAT MUDA, CHAIRIL MUDA

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
menatap lama ke dalam pandangnya

coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakahkau selalu mesra dan aku bagimu indah?

Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.

Dia rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas

Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati

DENGAN MIRAT

(sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya)

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam'

Kan terdamparkah atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu
(1946)

SAJAK PUTIH

Chairil Anwar
(buat tunanganku Mirat:1944*)

Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...
***

DERAI DERAI CEMARA

(Khairil Anwar)1949
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan
kini...
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
 

MENU UTAMA: